Mengulas Broken Strings by Aurelie Moeremans


Pasti tau lah ya buku yang lagi viral ini.
Kalian bisa dapetin linknya di bio instagram sang penulis kalau mau ikutan baca juga.

Bukunya gratis, jadi aku tertarik baca walau gatau siapa itu Aurelie Moeremans.


Sebelum baca bukunya, aku sempet liat review orang-orang yang pada memperingatkan kalau baca buku ini bisa bikin mual karna triggering.

Di awal halamannya pun ada trigger warning.

Tapi karna aku liat bukunya tentang penyintas child grooming, jadi kupikir ya ga bakal trigger apapun ke diriku.

Eh setelah baca dua chapter, alamakk aku lupa kalau aku adalah seorang empath.

Aku keikut ngerasain apa yang dia rasain, apalagi penggambarannya cukup detail.

Jadi aku baca buku ini slalu berhenti kasi jeda di tiap chapter, bukan karna capek bacanya, tapi buat ambil napas karna energiku serasa kesedot.

Dan ga nyangka aku yang pernah berada di hubungan toxic walau bukan yang tipe child grooming pun ikut kena trigger, ikut relate sama apa yang dia alamin.

Salah satu part yang “damn, I was here”:



Dulu di era millenial, mana ada edukasi awareness tentang toxic relationship. Mungkin ada, tapi di indo ga booming.

Jadi perlakuan posesif kayak gitu dulu dianggap tanda sayang, tanda cinta, tanda peduli, tanda seriusnya sang pacar. Padahal itu ga sehat, itu redflag.

Aku yang dulu mengalami itu diatas 18 tahun aja dah kayak mau mati, apalagi si Aurelie yang umurnya baru 15 tahun pada saat itu.

15 tahun yang masih sepolos dan sepatuh itu pada orang yang salah, orang sinting.

15 tahun yang masih belum bisa bedain mana cinta, mana controlling. Bahkan yang dia alami jauh lebih parah sampai aku marah, berkali-kali bilang “jahat” setiap nama Bobby itu muncul. Apalagi pas nama John, bukan marah lagi tapi murka.

Makin ke belakang, semua pola toxic dipraktekin ama si Bobby, sampe ke tahap physical abuse, keren lu begitu?


Terbukti juga kan lewat buku ini kalau dulu era millenial di indo tuh bobrok banget kalau soal awareness toxic relationship, terutama soal child grooming.

Apalah fungsinya komnas perlindungan anak dan kak seto ‘sahabat anak’ pada waktu itu.

Apa sekarang ga malu kak set? Kak set sahabat anak yang mana? Anak artis doang? Anak pejabat doang?

Eh pas liat artikel berita lama yang ke-up lagi ternyata kak set juga pelaku child grooming yang dinormalisasikan, plot twist, ya pantesan aja dulu kasusnya ga digubris ama si keset.

Apalah fungsi gelar psikologi itu kalau malah jadi pelaku, malah punya nama di sistem indonesia.


Sistem bobrok!


KESEL BANGET.


Aduh review buku macam apa ini.


Oke balik lagi, langsung ke endingnya aja ya aku capek wkwk.

Endingnya sangat amat melegakan setelah dibikin draining, ditambah ada bonus chapter tentang penerimaan diri yang bikin aku jadi bangga sama si wanita kuat hebat bernama Aurelie ini.

Ternyata dia nulis versi bahasa indonesianya sendiri tanpa editor. Teknik menulis dan pemilihan katanya bagus, rapi, dan ga bertele-tele untuk seseorang yang pekerjaannya bukan penulis dan bahasa indonesia bukan bahasa pertamanya.


Layak baca, keren abis.


Terima kasih kak Aurelie atas keberaniannya untuk menulis buku ini, untuk dibaca orang tua dan anak-anak muda indonesia #putustali.


Walau dulu aku gatau kasusnya tapi ternyata aku pernah nonton semua iklan-iklannya di tv, buset 15 tahun kok udah cantik elegan, pantesan orang sinting itu terobsesi.

Mana orang sinting itu sekarang sibuk cerdas cermat, 1+1=2, 8x8=6x4.

Tolong yang waras ya, yang waras.


Animated Word Love Black